Wednesday, November 28, 2007

Proyek Gorden


Ceritanya, sejak kami menempati rumah kami ini awal tahun ini, kami belum pasang gorden pada jendela-jendelanya. Cuma jendela kamar aja yang kami pasang gorden, secara gak mungkin kan malam2 tidur trus kita keliatan dari luar. Ini juga dipinjamin oleh tante, karena blio kasihan sama kami (walah, sampai segitunya!). Jadi jendela di ruang tamu dan dapur masih ngeblong aja gitu, kok bisa ya?



'Ntahlah, kami sendiri aja juga bingung, kok bisa ya, sampai hampir setahun tanpa gorden. Dibilang gak mampu, gak, harga gorden kan gak mahal2 amat. Dibilang gak sempat, gak juga, udah hampir setahun gitu lho, masak menyempatkan waktu sehari buat ke toko gorden aja gak bisa. Dibilang kita nyaman dengan kondisi tanpa gorden, jelas gak, wong aktivitas kita terlihat jelas dari luar, kok nyaman. Cuma, rumah kami memang gak langsung di pinggir jalan, jadi gak terlalu mengganggu, tapi tetap aja gak nyaman. Jadi apa??

Yang jelas males aja kali dan suka menunda2. Awal-awal kita emang gak nyaman dengan kondisi itu, trus kita berencana untuk secepatnya pasang gorden, Sering tuh, kalo libur kita bilang, pesan gorden yuk, tapi teteup...gak terealisasi juga, omdo, omong doang!

Sampai akhirnya pertengahan bulan kemarin, saya bilang ke suami, pesan gorden yuk. Dan ajaibnya, gak seperti kemarin2 yang 'NATO' (Not Action Talk Only!), kita bertiga langsung meluncur ke ITC ke toko gorden. Pilih-pilih motif dan bahan yang disesuaikan sama kantong kita, agak2 bingung juga sih, tapi suami menyerahkan ke saya untuk memilih.

Dan akhirnya, seminggu kemudian si tukang gorden datang untuk pasang gorden di jendela ruang tamu kita. Untuk jendela dapur, bulan depan kali ya, soalnya untuk 2 jendela ruang tamu aja, ternyata udah menghabiskan lumayan banyak rupiah (he..he.. katanya gak mahal2 amat!).


Dan inilah penampakan gorden baru kita, manis gak??











Si Fikri ikutan mejeng di depan gorden baru dengan ikat kepala naruto.

Monday, November 19, 2007

Kayaknya Fikri harus sering Tutup Mata ya, Bu....?!


Saya sudah hampir tidak terlalu memikirkan masalah itu, bukan lupa, hanya tidak lagi intens memikirkannya, sampai ketika libur lebaran kemarin Fikri mengungkapkannnya lagi. Waktu itu kami sedang menemani Fikri berenang di kolam renang Puri Beta, Barat Jakarta sana. Di tengah keasyikan Fikri berenang tiba2 dia menghampiri saya yang berdiri di pinggiran dan berkata: "Bu. kalau di kolam renang banyak yang pakai baju terbuka ya, kayaknya Fikri harus sering tutup mata ya, Bu" Saya hanya bisa jawab bahwa kalau di kolam renang umun memang seperti itu. Tentu saja Fikri tidak harus menutup mata terus-terusan tapi bukan berarti Fikri boleh secara bebas melihat aurat mereka, segera tundukkan pandangan ketika tidak sengaja melihat mereka dan ucapkan istighfar, lalu jangan dilihat lagi.

Kira-kira sudah sebulan sebelumnya Fikri terkena 'sindrom sadar aurat' (begitu saya menyebutnya). Berawal dari satu siang ketika saya di kantor, Fikri menelepon saya. Dengan setengah menangis Fikri bilang kalau tadi Fikri lihat auratnya Mama Bang Aan (saudara kami).
Di antara tangisnya Fikri bilang kalau Mama Bang Aan lagi kerokan dan Fikri tanpa sengaja melihat auratnya. Lebih lanjut Fikri bilang yang dimaksud auratnya itu adalah sekitar leher. Waktu itu saya bilang kalau tidak sengaja tidak apa-apa. Yang penting Fikri tidak ulangi lagi dan minta maaf ke Mama Bang Aan.

Setelah kejadian itu, hari-hari sesudahnya adalah Fikri 'melapor' ke saya setiap dia melihat 'aurat' orang lain entah itu saudara, teman atau kami orang tuanya (bahkan orang di tv, majalah or foto sekalipun!). Aurat menurut versi Fikri adalah leher dan sedikit bagian dada yang terlihat ketika orang memakai baju atasan. Dengan muka cemas dia bilang kalau dia tidak mau melihat itu semua. He really don't want to make a sin! Bahkan pernah sekali dia bilang kenapa orang yang sedang keluar rumah tidak semua memakai kerudung seperti Ibunya.
Again n again saya cuma bisa menasehati Fikri agar segera menundukkan pandangan, ucapkan istighfar dan jangan dilihat lagi dengan niat untuk melihat aurat mereka.

Kesadaran Fikri bahwa aurat tidak boleh sembarangan diperlihatkan rupanya cukup merepotkan Fikri. Pernah suatu hari dia mengintip-intip dari balik jendela karena ingin main tapi tidak mau melihat aurat orang. Atau pernah dia main di rumah nenek tapi sering di pojokan sambil menutup mata karena nenek tidak pakai kerudung. Bahkan Fikri pernah sampai pada keputusan dia tidak mau main, tapi di rumah saja, karena tidak mau melihat aurat orang!

Tentu saja saya dan suami cukup khawatir dengan hal itu. Tentu kami bersyukur bahwa di usia Fikri yang baru 6 tahun, Fikri sudah mempunyai kesadaran seperti itu. Tapi keinginannya untuk 'mengurung diri' di rumah tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Saya dan suami sudah sepakat akan hal itu. Kami coba jelaskan bahwa memang sudah menjadi kewajiban wanita dewasa bahwa ia harus menutup auratnya ketika keluar rumah, tapi belum semua orang sudah menjalankan kewajiban ini. Dan hal itu tidak boleh mengganggu Fikri. Yang penting Fikri tidak mempunyai niat untuk terus-terusan melihat dan segera menundukkan pandangan, dan jangan lupa mengucapkan istighfar.

Sekarang Fikri sudah tidak terlalu parno lagi. Tapi saya sering melihat Fikri menutup matanya ketika melihat hal-hal yang kurang pantas menurutnya. Saya dan suami hanya berdo'a semoga Fikri mengingat apa yang telah kami nasehatkan untuk mengatasi masalah-masalah itu. Just listen to your heart says....son and jagalah nurani itu!

Wednesday, November 14, 2007

Cerita Tentang Lebaran....

Idul fitri tahun ini adalah lebaran ketiga kalinya yang kami rayakan bukan di kampung halaman saya di Boyolali sana. Pertama kali adalah waktu kami masih di Banjarbaru, Kalsel, waktu itu Fikri masih berumur 7 bulan. Kedua kali adalah waktu kami baru saja pindah dari Kalsel ke Jakarta. Dan tahun ini kami memutuskan untuk berlebaran di kampung halaman suami...jakarta tercinta *sigh*. N guess what?? Biarpun ini bukan yang pertama kali...teteup aja ada setitik air mata di sudut mata saya, nangis... ternyata daku kangen juga sama suasana idul fitri di kampung saya..sederhana tapi menyentuh kalbu *apa coba?*

Beneran, yang paling berasa pas malam takbiran. Di kampung saya sana pas malam takbiran, saya masih bisa menikmati pemandangan anak-anak kecil keliling kampung sambil membawa obor yang terbuat dari bambu sambil bertakbir..tapi di Jakarta? Bahkan kami sampai pergi ke Monas, tapi apa yang kami dapat..suasananya gak jauh beda sama malam tahun baru....orang2 berpacaran di sana-sini, males gak sih.


Pun ketika mau sholat Ied. Di kampung saya, kami sekeluarga dan tetangga biasanya sholat di lapangan sebuah sekolah. Untuk menuju ke sana kami jalan kaki melewati persawahan yang sangaaat ijo. Sholat Ied dan mendengarkan ceramah di bawah sinar matahari pagi yang masih hangat *dengan catatan gak hujan lho yaa*.


Tapi ya sutralah dinikmati aja suasana Jakarte. Bagaimanapun juga kami masih bisa mendengar suara takbir yang diiringi bunyi bedug yang dipukul di ujung gang-gang keluar perkampungan. Kami juga masih bisa menikmati pendar kembang api di langit Jakarta, yang sekali lagi, ini bukan suasana khas malam takbiran karena saya bisa dapat pemandangan itu pada malam tahun baru. Kami juga masih bisa sholat Ied di masjid dekat rumah. *penginnya sholat ied di lapangan belakang RCTI, tapi apa daya gerimis pagi itu menghalangi niat kami*.

Selebihnya, sama saja suasana Idul Fitri di Jakarta dengan di kampung saya...berkeliling berkunjung ke rumah saudara untuk bermaaf-maafan.Untuk hal ini lebaran di Jakarta punya kelebihan: jumlah rumah saudara yang harus kami kunjungi banyak bangeet dan itu malah membuat Fikri happy soalnya Fikri bisa mempertebal dompet hasil salam tempel *Fikri dapat hampir 300 ribuan!*. Selain itu saya bisa mencicipi makanan yang gak ada di hari lebaran di kampung saya..manisan kolang-kaling, I love that food!

Yang paling exited dengan lebaran tentu saja Fikri. Setelah hampir 1 bulan puasa, cuma bolong 3 hari pertama, lebaran adalah hari yang benar2 ditunggu Fikri. Untuk keberhasilan Fikri puasa tahun ini kakek sama nenek ngasih Fikri sarung n kopiah putih. Sedangkan dari Bapak Ibu, Fikri kami belikan baju baru aja deh untuk lebaran.

Karena malas crita, pasang foto aja deh...toh " a picture paint a thousand words" ya kan? *ngeles.com*