Thursday, January 31, 2008

Kontrak Persahabatan

Kemarin saya berkunjung ke rumah Mama Shasa ternyata ada sesuatu menanti saya di sana, sebuah kontak yang menunggu untuk saya tanda tangani. Sebuah kontrak persahabatan yang ditawarkan ke saya untuk saya setujui. Begini bunyi kontraknya:

After serious and cautious consideration...your contract of friendship has been renewed for the New Year 2008! It was a very hard decision to make. So try not to screw it up!!!

My Wish for You in 2008
May peace break into your house and may thieves come to steal your debts. May the pockets of your jeans become a magnet of $100 bills.
May love stick to your face like Vaseline and may laughter assault your lips! May your clothes smell of success like smoking tires!
May happiness slap you across the face and may your tears be that of joy.
May the problems you had forget your home address! In simple words ...
May 2008 be the best year of your life!


Mama Shasa, makasih banyak untuk memberi kepercayaan sama aku ya, mudah-mudahan kita bisa melaksanakan isinya dan semoga harapan-harapan di dalamnya bisa terwujud jadi kenyataan untuk kita semua. Jadi kontrak itu aku terima dan sekarang resmi ku tanda tangani.

Untuk selanjutnya kontrak ini ku teruskan ke bunda Ina, De, Bunda Fia, Fa, mbak Gege, Mbak Indah, Ira, mbak Nunik juga, Sofie, Tiwi, Teh Roro dan siapa saja yang berkunjung ke sini, siapa saja yang bersedia untuk berteman denganku (pliizzz), mudah-mudahan kontrak ini bisa diterima dan ditandatangani.

Monday, January 28, 2008

Lelaki dan Perempuan

Seorang Lelaki datang ke rumah seorang Perempuan. Si Lelaki datang untuk mampir atas undangan si Perempuan ketika mereka berpapasan di jalan setelah pulang kuliah. Si Perempuan hanya berbasa-basi mengundang, sekedar ucapan sambil lalu ketika mereka berpisah jalan di tikungan, karena toh si Lelaki tak akan benar-benar mau mampir. Tapi tak disangka undangan diterima si Lelaki.

Setelah berbincang sementara waktu, si Perempuan membuatkan minuman.
Pada saat inilah si Lelaki menuliskan kata-kata berikut di buku si Perempuan yang tergeletak di atas meja tanpa sepengetahuan si Perempuan.
What do you think a Man want by wrote those words to a Woman?



Si Perempuan jadi bertanya-tanya apa maksud si Lelaki menuliskan kata-kata itu di bukunya, karena setelah itu tidak ada kelanjutan apa-apa dari si Lelaki.

Bahkan setelah itu si perempuan tidak pernah bertemu lagi dengan si lelaki, sampai beberapa tahun kemudian mereka berpapasan di jalan...tapi si Lelaki hanya memandang si Perempuan tanpa senyum, tanpa kata.

Yang melintas dalam benak si Perempuan ketika mereka bertatap mata hanyalah deretan huruf-huruf yang membentuk kata-kata di bukunya...beberapa tahun lalu.

"Apa yang ada dalam hatimu, Lelaki?" bisik si Perempuan.....dalam hati.

Wednesday, January 23, 2008

But..but..but..but

Suatu hari saya mendengar Fikri menyanyi lagu Delman Istimewa (Judul lagu yang benar apa ya?)
Lagu anak-anak yang sangat akrab di telinga saya, tapi terdengar lain ketika dinyanyikan Fikri, begini lagunya:

Pada hari Minggu ku turut ayah ke Garut
Naik delman istimewa ku duduk di buntut
Duduk di samping Pak Kusir yang sedang cemberut
Mengendali kuda supaya jalannya ngebut..but
But..but..but..but..but..but..but..but..but..but..but..but..but
But..but..but..but..but.. suara kuda sedang kentut

Saya:"Fikri, siapa yang ajarin kamu nyanyi seperti itu?"
Fikri:"Ustadz Fajri"
Saya:"?!$%#JUY^@*(+"

Friday, January 18, 2008

Wanita-Wanita Tegar



Tit..tit..tit hape saya berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Assalamu'alaikum mbak.. apa kabar? main mbak ke Cengkareng. Sebuah pesan pendek saya baca, tertulis Devi sebagai pengirimnya. Sudah beberapa kali sms yang sama masuk ke hp saya. Saya membalasnya dengan niat di hati saya, insyaAlloh secepatnya saya akan mengunjunginya.

Devi adalah teman saya. Kami sama-sama pernah tinggal di Banjarbaru, Kalsel karena penempatan kerja ikatan dinas. Kami bertetangga. Suaminya, Alyuni satu angkatan kuliah dengan saya dan Mas Achmad (kami bertiga satu kantor).

Akhir tahun 2003 kami pindah ke Jakarta, Devi dan suaminya masih di Banjarbaru. Sejak saat itu kami hanya berhubungan lewat sms, itupun jarang karena kesibukan kami masing2. Sesekali kami sempat bertemu di Jakarta ketika mereka pulang kampung atau sedang urusan ke kantor pusat di Jakarta.

Sampai suatu hari (sekitar tahun 2006) saya mendapat telepon dari teman saya yang lain dari Banjarbaru mengabarkan berita duka itu....Alyuni, suami Devi meninggal dunia, setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Seketika saya langsung terbayang Devi dengan dua buah hatinya yang masih kecil-kecil (Aini dan Fathurohman).

Setelah itu 2 kali saya bertemu Devi. Pertama, ketika saya datang waktu hari pemakaman almarhum. Kedua, ketika akhirnya saya bisa datang memenuhi undangan Devi untuk berkunjung ke Cengkareng (rumah kakaknya). Dari dua kali pertemuan, saya sungguh takjub dengan Devi. Ketabahan yang ditunjukkan sangat luar biasa. Tidak ada duka yang berlebihan. Dari matanya saya bisa melihat ada kerinduan yang sangat dalam kepada almarhum, tapi di balik itu saya juga bisa melihat semangat yang menyala bahwa dia harus bertanggung jawab atas kedua anaknya.

Bahkan ketika pertemuan kami yang kedua saya baru tahu bahwa ternyata sebelum suaminya meninggal, ayahnya lebih dulu pergi untuk selamanya. Ibunya yang saat itu saya temui di cengkareng mengatakan bahwa belum 40 hari ayah Devi pergi ketika suaminya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Ibu Devi dan Devi bagi saya adalah wanita-wanita tegar yang sanggup berjalan lagi setelah ujian yang berat. Mereka tidak terlarut dalam duka yang mendalam. Ketika terakhir bertemu itu, mereka mengungkapkan akan kembali ke Padang, kampung halaman mereka. Kehidupan yang baru akan dimulai di sana untuk membesarkan kedua buah hatinya. Mudah-mudahan Alloh memberikan kemudahan untuk mereka...amin.



kami, ketika bertemu di Cengkareng.
(ki-ka: Annisa, Fikri, Aini, Ibunya Devi, Devi, Fathur, saya)



Uni Devi, kapan ya kita bisa bertemu lagi...

Monday, January 14, 2008

and AUBREY was her name........*

.......sayup-sayup terdengar lagu berjudul AUBREY ( klik di sini untuk mendengarkan ), menyusup ke telinga saya dan tiba-tiba berbagai potongan kisah masa lalu lewat di benak saya......

Dulu ketika saya masih SMA, mendengarkan siaran radio adalah acara favorit saya dan teman-teman, 'ntah teman di sekolah atau teman di rumah. Waktu itu stasiun TV tidak sebanyak sekarang, apalagi kami yang berada di daerah (baca=solo dan sekitarnya), paling-paling hanya TVRI yang kami lihat. Dan mau tidak mau radio menjadi hiburan favorit bagi kami.

Salah satu acara radio yang saya dan teman-teman di sekolah selalu dengarkan adalah Memori Kamu. Acara ini diputar di Radio SAS FM Solo tiap sore hari. Tadinya acara ini berjudul SAS Memory Song dan diputarnya tiap minggu malam (kalau tidak salah jam 11 malam). Tapi berhubung acara ini banyak penggemarnya, akhirnya jadwalnya diubah.

Acara ini membacakan surat dari penggemar yang isinya adalah memori si penulis surat. Setelah itu barulah diputar lagu yang berhubungan dengan isi kisah dalam surat itu atas permintaan si penulis surat. Atau bisa juga sebaliknya..... isi surat bercerita tentang kenangan yang muncul karena mendengarkan lagu tertentu yang nanti akan diputar setelah pembacaan surat.

Nah, selama pembawa acara (halo mbak Lely Antari yang saya gak pernah lihat wajahnya!) membaca suratnya, lagu AUBREY dijadikan backsoundnya. Perpaduan antara berbagai kisah dengan lagu AUBREY dan suara mbak Lely adalah keajaiban yang sanggup menghipnotis saya dan teman-teman di sekolah untuk selalu dan selalu mendengarkan acara ini. Saya bisa meneteskan air mata, bisa tertawa, bisa sedih, bisa gembira, bisa ikut marah, bisa merasa sangat terharu mendengar acara ini. Sungguh, keajaiban yang menimbulkan kerinduan yang bercampur dengan kekecewaan apabila terlewati acara ini satu hari saja.

Saya dan teman-teman di sekolah yang tadinya cuma sebagai pendengar akhirnya mulai memberanikan diri mengirim surat (saya tidak....hanya teman-teman saya). Mereka akan sangat bangga apabila suratnya dibaca di acara itu. Jadilah mereka berlomba-lomba, bahkan saking konyolnya dan saking besarnya keinginan agar suratnya dibaca, beberapa teman saya menulis surat yang isinya sangat dramatis...tapi tenyata cuma karangan belaka, bukan kisah nyata! Misalnya: ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang kekasih, ditinggal kekasih ke luar negeri, putus cinta, dan berbagai kisah sedih lainnya. Sangat konyol tapi sangat menyenangkan!!!

Seiring dengan berjalannya waktu, saya lulus SMA dan harus melanjutkan kuliah di luar Solo, menyebabkan saya tak bisa mendengarkan acara itu lagi. Kadang-kadang saya masih bisa mendengarkan acara itu ketika saya libur kuliah dan pulang ke rumah, mendengarkan lagu AUBREY dan berbagai kisah yang menyertainya....kerinduan yang luar biasa pada masa remaja dan teman-teman SMA saya.

dan sekarang....

di manapun dan kapanpun saya mendengarkan lagu AUBREY, suara penyiar radio membaca surat seolah-olah begitu dekat di telinga saya, seolah baru kemarin saya mendengarnya....

dimanapun dan kapanpun saya mendengarkan lagu AUBREY, gambaran wajah-wajah teman SMA berada di pelupuk mata saya.....

di manapun dan kapanpun ssaya mendengarkan lagu AUBREY, seolah-olah pemandangan kampung halaman saya terpampang di depan saya memanggil-manggil saya untuk mendatanginya......

di manapun dan kapanpun saya mendengarkan lagu AUBREY, terbayang orang anak SMA berbadan ceking, berkulit sawo matang, berambut pendek berada di tengah teman-temannya menunggu bis kota sambil bercanda dan tertawa....
itu adalah saya bersama teman-teman SMA saya.....


untuk Heru adikku, masih ingin pulang kampung dan menetap di Solo or Boyolali, Bro...?

untuk sahabat-sahabatku SMA 4 Solo...bravo SMARA CATUR! (Ari Savitri, Ratnaningtyas EP, Emilia Herawati, Yuliana Budiardjo, Eri Kusmeri, Nurlaila Khusna, Niken DWC, Caecilia Oki DS, Dahlia dll di manakah kalian....?)

*potongan bait lagu AUBREY by BREAD.

Tuesday, January 08, 2008

Menjadi Full Time Mother: Sebuah Keputusan Dengan Keberanian

Kemarin saya baca tulisan ini, saya jadi teringat tahun-tahun awal Fikri ada di dunia ini, keinginan saya untuk jadi Full Time Mother (FTM) di rumah sungguh kuat.


Waktu itu, karena alasan kedinasan kami tinggal di Banjarbaru, Kalsel sana. Berada di perantauan tanpa keluarga dekat yang siap membantu membuat kami cukup merasa kewalahan dengan masalah menjaga Fikri, karena saya dan Mas Achmad harus bekerja. Alasan ikatan dinas dan ekonomi membuat saya harus bekerja. Bisa saja saya keluar tapi harus mengganti rugi sebesar Rp. 25 juta kepada negara, realistis saja itu adalah jumlah yang besar bagi kami saat itu.


Solusi untuk mengambil seorang 'asisten' tidak mudah dilakukan. Terutama karena Banjarbaru itu kota kecil dengan penduduk asli yang 'ogah' menjadi pembantu. Kalaupun ada, itupun tidak banyak pilihan.Akhirnya dengan berat hati saya tinggalkan Fikri dengan 'orang asing' (bukan keluarga) selama kami bekerja.


Jangan ditanya tentang perasaan saya saat itu. Bahkan ketika saya menulis inipun air mata langsung menggantung di sudut mata saya. Setiap mau berangkat kerja perasaan sedih, kecewa, kasihan dan rasa bersalah bercampur aduk membuat gumpalan rasa sesak di dada saya. Perasaan bersalah yang mendera saya terus menerus sampai membuat saya sakit. Bahkan saya sampai tidak bisa menggendong Fikri lakgi karena sangat lemahnya kondisi saya waktu itu (berat badan saya sampai tinggal 29 kg!).


Saya berpikir saya tidak bisa terus menerus dalam kondisi itu, selain sangat merugikan saya sendiri juga akan merugikan orang-orang di sekeliling saya, terutama Mas Achmad dan Fikri.

Akhirnya saya mencoba berpikir positif, bahwa saya adalah wanita biasa dan bukan seorang 'super woman' yang harus menjalani multi peran yang dituntut memuaskan semua pihak.

Alhamdulillah waktu Fikri berumur 1 tahun 7 bulan saya mendapat pengganti 'asisten' yang lebih bisa saya percaya dan lebih telaten dalam menjaga Fikri. Tapi itu bukan
berarti keinginan saya untuk menjadi FTM memudar.

Ketika Fikri berumur 2 tahun 6 bulan, alhamdulillah kami bisa pindah tempat kerja ke Jakarta, kampung halaman Mas Achmad. Syukur tiada terkira karena saya lebih tenang meninggalkan Fikri di rumah di tengah-tengah keluarga Mas Achmad, kakek dan nenek Fikri.


Sekarang Fikri sudah berumur 6 tahun 8 bulan. Seiring dengan bertambahnya umur Fikri, dia semakin mandiri. Tapi apakah itu memadamkan keinginan saya untuk menjadi FTM? Tentu tidak...Keinginan itu tetap ada, hanya tidak lagi terlalu berkobar-kobar terus menerus.


Ketika Fikri sakit, ketika Fikri membutuhkan pendampingan yang intens dalam belajar, ketika saya ingin mengerjakan tugas-tugas ibu rumah tangga semaksimal mungkin, ketika saya ingin berada di rumah ketika Fikri pulang sekolah, ketika saya ingin menyambut Mas Achmad pulang kerja dengan senyuman dan secangkir teh manis untuknya, ketika naluri sebagai seorang ibu dan istri datang memanggil, saat itulah keinginan untuk menjadi FTM sangat besar.


Tapi sebaliknya, ketika Fikri sangat menikmati sekolah dan berinteraksi dengan teman-temannnya ketika Fik
ri makin menunjukkan kemandiriannya, ketika Mas Achmad tidak berkeberatan (baca: membutuhkan) peran saya sebagai ibu yang bekerja, saat itulah keinginan untuk menjadi FTM mengecil.

Bukan hilang hanya mengecil karena bagaimanapun naluri seorang ibu adalah mengasuh, menjaga, mendidik anak-anaknya di rumah dan naluri seorang istri adalah memberikan yang terbaik untuk suaminya di rumah.


Kelak suatu hari, saya berharap saya akan punya keberanian untuk mengambil keputusan memilih untuk menjadi Full Time Mother!!! Do'akan saya.

Friday, January 04, 2008

Membelah Sungai Batanghari


Akhir tahun 2007 kemarin, alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk melihat sisi Indonesia yang lain, melihat kota Jambi. Meskipun cuma menginap satu malam tapi saya masih sempat menyusur sepanjang sungai Batanghari dan merasakan riak gelombang airnya dari atas speedboat yang melaju membelah luasnya sungai Batanghari. Merasakan kencangnya angin dan panasnya sinar matahari menerpa wajah saya.
Saya jadi teringat masa-masa yang telah saya lewati di Kalimantan ketika saya cukup sering naik speedboat dalam perjalanan Banjarmasin-Palangkaraya (sebaliknya) atau Banjarmasin-Kapuas (sebaliknya).


Wednesday, January 02, 2008

SeLAMat TAhuN baRu 2008


Senja 2007 telah tenggelam, digantikan oleh fajar baru 2008
Selamat Tahun Baru 2008
Semoga tahun baru, memberi harapan baru
dan kehidupan yang lebih baik dalam segala hal.