Tuesday, April 29, 2008

Dari KOPDAR, ke INACRAFT sampai SAKIT MATA

Akhirnya bisa posting lagi setelah dari hari sabtu kemarin kami bertiga secara berurutan: Fikri, Mas Achmad, saya terkena sakit mata. Sekarang alhamdulillah sudah membaik, jadi bisa ngeblog lagi.


KOPDAR: Jumat, 25 April 2008

Hari Jumat kemarin akhirnya saya bisa kopdar yang pertama kali dengan teman2. Sebenernya gak tahu siapa yang 'punya gawe'. Tapi saya diajak sama Iie, Ocha, Vera dan Bunda Evie. Jadilah saya datang ke Plangi...Dan inilah foto2 narsis kita yang berhasil saya tangkap dari kamera saya. Saking asyik foto2, sampai lupa kalo Ocha tuh gak tahan kena blitz kamera, sampai matanya perih (maaf ya say...).



foto kiri ki-ka: Novee, Bunda Evie, saya
fofo kanan berdiri ki-ka: erva, Dessi, Bunda Evie, saya
duduk ki-ka: shella, angky, mbak Prima, Indhy


foto kiri Berdiri ki-ka: mbak Prima, shella, Bunda Evie, saya, Novee, Vera
duduk ki-ka: erva, santi, Kiky, Ocha
foto kanan berdiri ki-ka: mbak Prima, Iie, shella, Bunda Evie, Vera, saya, Bunda Key
duduk ki-ka: erva, santi, Kiky, Ocha

Seneng bisa ketemuan, bisa nambah teman dan saudara....bisa makan coklat enak (thanks to shella). Cerita lainnya dibaca di tetangga sebelah yg kemarin ikutan hadir ya..

Nb. Mohon maaf dan dikoreksi kalau ada nama yang tidak sesuai sama orangnya, soalnya baru ketemu sekali........


INACRAFT: Sabtu 26 April 2008



Berbekal rasa penasaran yang tinggi, akhirnya hari sabtu saya berhasil membujuk Mas Achmad dan Fikri untuk pergi Inacraft. Sengaja pergi hari Sabtu, karena hari minggu hari terakhir kan penutupan, pasti penuh. Ternyata hari sabtu penuh juga, jalan aja sampai susah.

Barang-barangnya bagus-bagus, tapi untuk ukuran saya..........mahal! Jadinya saya gak beli apa-apa tuh (Bunda Evie, saya lulus kan? gak tergoda untuk belanja macam-macam ....whoehehe..).






SAKIT MATA


Dimulai hari sabtu, fikri mengeluh matanya perih dan kepalanya sakit sewaktu sujud sholat Dzuhur. Saya lihat memang matanya merah, langsung saya kasih tetes mata. Sepanjang di Inacraft dan malamnya Fikri tidak mengeluh lagi dengan matanya. Tapi giliran Mas Achmad merasa gak enak dengan matanya.

Minggu pagi bangun tidur mata Fikri sudah bening lagi (alhamdulillah gak sampai parah), tapi sebaliknya mata Mas Achmad tambah parah, merah dan bengkak. Sementara saya mulai merasa gak enak dengan mata saya. waduh, jangan2 penyakit menular nih. Dan benar saja, saat minggu siang Mas Achmad ke dokter, mata saya ternyata makin memerah.

Dan puncaknya adalah senin pagi, sewaktu bangun tidur, mata saya dan Mas Achmad sudah bengkak dan merah. Jadinya kami berdua ijin gak ngantor hari itu. Yang ada, di rumah bawaannya kepengin ketawa mulu melihat muka Mas Achmad yang terlihat lucu dengan matanya yang sakit, padahal muka saya juga gak kalah lucunya. Saya bilang, kasian banget deh kita.

Mungkin ini ujian untuk kita, supaya mata kita dipakai untuk melihat hal-hal baik saja (padahal mah kita gak pernah melihat yang bukan-bukan lho ya......)

Tapi yang bikin takjub, justru diantara kami bertiga, daya tahan fikri yang paling oke, buktinya matanya hanya merah-merah dikit, gak separah dibanding kita berdua. (Semua tergantung amal perbuatannya ya, makin banyak dosa makin parah sakitnya.....huaaaaaaaa:scream:).

Kalau memang seperti itu, mudah-mudahan kami ikhlas, itu berarti dosa-dosa kami sedang dalam proses dikurangi. Amiiiiin.


Monday, April 21, 2008

rasa BERSALAH itu...

Hari Sabtu kemarin kita bertiga pergi ke salah satu mall di jakbar. Niatnya mau beli kado untuk teman yang melahirkan. Sampai sana langsung ke tempat keperluan bayi. Kebetulan salah satu gerai toko di mall ini sedang mengadakan diskon besar termasuk si produk bayi ini. Ternyata ya, diskon dan gemerlap mall kali ini cukup ampuh membuat mata hati saya tertutup...lagi... dan lagi.

Setelah memilih satu buah produk bayi, saya mengambil satu buah baju untuk saya, Mas mengambil satu buah kemeja untuknya. Sementara Fikri minta main di salah satu arena permainan, saya belum puas keluar dari tempat diskon dan akhirnya tergoda untuk mengambil dua buah barang lagi. Selesai main, kami kemudian masuk ke salah satu tempat makan untuk makan siang. Makanannya kurang terlalu istimewa, tapi harga yang harus kami bayar lumayan mahal, mungkin kami harus membeli suasananya juga.

Setelah makan, Fikri bilang, "Bu, kok yang belanja ibu sama bapak aja, Fikri gak beli apa-apa?" Saya jawab, "Ya sudah Fikri mau beli apa? Tapi tidak mainan atau baju ya". Fikri minta beli sandal. Sementara Fikri memilih sandal dengan Bapaknya, saya pergi ke tempat baju perempuan, dan lagi-lagi saya tergoda dengan diskon. Berpindahlah 2 buah barang perempuan ke tangan saya. Keluar dari toko itu, ketika mau turun, mata saya melirik salah satu baju yang digantung di toko dekat tangga. Saya masuk dan kembali lagi satu buah baju saya beli, dengan diskon tentunya. Saat itu belum terpikir berapa rupiah yang sudah kami keluarkan hari itu.

Dalam langkah kaki turun ke lantai bawah mall itu, kami bertemu dengan stand dari mall tempat menukarkan struk belanjaan dengan sebuah kupon. Jadi kalau kita berbelanja dengan kelipatan tertentu, kita bisa dapat kupon untuk nantinya diundi dengan berbagai macam hadiah. Dan dari situlah kami tahu berapa jumlah total uang yang kami belanjakan hari itu. Kami dapat kupon lebih dari 10. Lumayan kaget juga saya dan suami. Banyak banget ya belanjaan kita hari ini? kata saya ke suami, sambil dalam hati saya teruskan: " terutama saya"!

Kekagetan tadi tidak serta-merta membuat saya sadar, karena sebelum keluar dari mall itu, saya masih sempat masuk ke salah satu bakery dan belanja lagi (Kali ini ada suara di hati saya yang membisikkan, "jangan banyak-banyak belinya!").

Dan keluarlah kami dari mall itu, yang seharusnya kami hanya membeli kado teman yang melahirkan, tapi ternyata rupiah yang kami keluarkan melebihi 6x lipat harga barang tadi, dan itu karena saya yang tidak berpikir jernih!

Dalam perjalanan pulang, di tengah gerimis dan cuaca mendung, teguran itu datang. Di sana di bawah pohon, di sebuah belokan jalan di dekat rumah, tukang rujak itu sedang menata buah-buah di dalam kotak kaca.....masih banyak sekali buahnya, padahal sudah lewat dari jam 3 sore!. Saya yang lebih dari sekali beli rujak di situ, sedikit tahu kalau jam-jam segini biasanya dagangan si mas itu tinggal sedikit. Tapi karena cuaca hujan hari ini tidak cukup menggugah orang-orang untuk membeli rujak, termasuk saya. Saya hanya melewati saja tukang rujak itu dengan perasaan bersalah yang memukul-mukul hati dan nurani saya dengan sangat keras!!!

Pandangan mata saya tiba-tiba kabur dengan genangan air mata, dan dengan suara parau saya berkata kepada suami saya, "Pah, dagangan mas itu masih banyak banget! Keuntungan atau bahkan seluruh buahnya kalau kita beli pasti tidak lebih banyak dibanding belanjaan kita hari ini. Sementara kita mengeluarkan uang dengan begitu mudah untuk barang-barang yang sebenarnya tidak sangat kita perlukan, kecuali kado itu".

Maafkan saya ya Alloh, jagalah hati saya, bisik saya dalam hati dengan mata yang tidak mau lepas dari tukang rujak itu.

Besok harinya ketika kami harus ke salah satu pusat perbelanjaan lagi, karena ada baju seragam yang harus saya permak, saya cukup puas karena hari itu kami tidak mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu, kecuali untuk makan dan membelikan fikri baju tidur, karena memang baju tidur fikri sudah banyak yang kekecilan.

Sekali lagi, maafkan saya ya Alloh, bantulah hamba untuk selalu menjaga hati hamba.


Tuesday, April 15, 2008

Tag.....tentang CINTA

Dapat tag dari mbak indah, tag yang nyerempet2 soal cinta, wah susyah nih, soalnya pertanyaannya agak2 'dalam' gitu. Tapi teteup harus dijawab ya?

Ini tagnya....ada gambar mawarnya (saya senang melihat bunga mawar, tapi gak tahan sama wanginya, bikin eneg).

Photobucket

Pertanyaan:
  1. Panggilan spesial apa untuk pasangan anda ? (soalnya kata 'sayang' saat ini sudah agak menurun mutu dan kualitasnya) ?
  2. Bagaimana cara anda merawat dan menjaga cinta pada pasangan ?
  3. Kapan terakhir jatuh cinta (lagi) ?

Jawaban versi saya:
  1. Tunggu...saya pikir dulu rolleyes. Saya klo manggil Bapaknya Fikri kadang Mas, kadang Abang, kadang Bapak klo di depan Fikri, tapi yang paling sering adalah Paaaah! Tapi gak ada yang paling spesial tuh, soalnya semuanya spesial...redface

  2. Mungkin kayak kita merawat mawar aja kali ya: harus disiram dengan kepercayaan, dipupuk dengan perasaan saling memberi dan melengkapi, dipangkas batang2 kecurigaan yang gak perlu, hingga bunga-bunga cinta itu bermekaran dan siap untuk kita petik, untuk kita resapi warna dan aromanya dalam kehidupan kita sehari-hari (sok puitis nih!pika15).

  3. Terakhir jatuh cinta lagi? Menurut saya: 'Seharusnya' jatuh cinta lagi kepada pasangan kita dan orang-orang terdekat yang kita kasihi tidak boleh ada akhirnya, biarkan itu menjadi proses yang tak berujung, itulah maknanya saling mencintai. Bener gak sih???
Sudah saya jawab semua dengan jawaban yang keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam (emang sumur kalee?).

Dilempar gak ya? Kayaknya gak usah deh ya, soalnya lagi pada males bikin pe-er kan? Apa? Gak males? Yo wis monggo, yang mau bicara soal cinta, dengan senang hati, silahkan diambil tag ini.


Saturday, April 12, 2008

fiKRi's Night Time Business

Dapat pe-er dari Jeng Emma. Tentang kegiatan apa saja yang dilakukan sebelum Fikri tidur. Kebetulan bulan Februari kemarin pernah posting hal ini (aaah, kebetulan yang sangat menyenangkan!). Lagipula siapa suruh ngasih pe-er kayak gini, he..he...

Penginnya sih, gak usah posting lagi gitu. Tapi.....demi menghormati Si Ibu Guru dan sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai murid (suit...suit...), boleh deh saya posting lagi dengan beberapa tambahan tentunya. Let's start..

Meskipun Fikri sudah kelas 1 SD, jangan dikira menyuruh Fikri tidur itu hal mudah. Karena ada saja alasan untuk menunda waktu tidur, apalagi kalo matanya masih seger, dijamin fikri bakalan ngedumel gak jelas gitu. Apa saja yang dilakukan Fikri sebelum tidur, kurang lebihnya kayak gini nih, simak baik-baik yah:


Sholat dulu trus baca buku

Bonus spesial dari Bapak
  1. Biasanya Fikri tidur jam 10 malam. Sekitar jam setengah 10, saya akan bilang:' Fikri, udah jam berapa, nih?' (baca: Fikri, waktunya tidur!).
  2. Fikri ke kamar mandi untuk pipis dan ambil air wudhu, sementara Bapaknya nyiapin tempat tidur fikri (wah..senangnya punya suami rajin seperti ini...ehem..ehempucca_love_17).
  3. Fikri sholat Isya.
  4. Fikri naik ke tempat tidur ditemani Bapak, biasanya sambil baca buku berdua (kebiasaan jelek, baca sambil tiduran!). Saya mengingatkan fikri jangan lupa baca doa sebelum tidur.
  5. Kalau sudah mulai ngantuk, Fikri minta yang spesial....biasa minta dikilik2 kupingnya.
  6. Saya pasang lampu tidur, gak berapa lama pules deh...Zzzzzzzzzzzz.
Begitulah....memang gak persis seperti itu tiap hari, tapi kurang-lebihnya ya seperti itupika14.

Tuesday, April 08, 2008

Cara Fikri Mengungkapkan Perasaannya


Kemarin malam, habis sholat maghrib dan taruh mukena ke dalam laci, gak sengaja saya menemukan buku catatan kecil berwarna merah milik saya. Buku itu saya beli di Islamic Book Fair belum lama ini. Rupanya buku itu terselip di antara peralatan sholat saya di laci.

Waktu saya ambil buku itu, posisinya terbuka di tengah. Saya pikir buku itu masih kosong, karena saya merasa belum nulis apa-apa di situ. Tapi waktu saya mau merapikan dan menutupnya......what a surprise!! Saya menemukan tulisan ini di halaman pertamanya.

Begini tulisannya:



Tidak terbaca ya? Biar saya tulis lagi:

U. Taekwondo
Aku kemarin ujian taekwondo, aku lulus
Aku dibeliin sepatu starmon dari Ibu
Aku sayang sekali sama Ibu

Oooooooo.......so sweet. Itu adalah tulisan Fikri. Jadi campur aduk deh perasaan saya, antara kaget dan terharu. Gak nyangka aja, sepatu hadiah kelulusan ujian taekwondo itu bisa membuat Fikri jadi bisa mengungkapkan perasaannya melalui tulisan (biarpun tulisannya gak rapi banget!).

Ibu juga sayang kamu, Nak. Ibu bangga sama kamu. Tapi jangan lupa, hadiah itu bukan cuma dari Ibu, tapi juga dari Bapak. So say thanks and you love him, too.

Nb.
Fikri jangan males belajar menulis lagi ya, biar tulisannya rapi....kayak tulisan Ibu..he..he.. Ingat kata Ustadzah Dian ya, klo mau lulus tulisannya harus lebih rapi lagi.


Monday, April 07, 2008

Sosis SOLO ala nunik

Sekali-kali posting tentang makanan aaah....

Hari Minggu kemarin di rumah Ibu mertua ada arisan keluarga. Bikin apa ya buat nambah2 camilan. Apa bikin puding aja? Ah, masak puding mulu, bosen ah, lagian bahan2nya juga blom ada. Trus ingat masih punya daging giling di freezer. Kayaknya dah lama deh daging itu tersimpan, lebih dari seminggu kali. Mending dimanfaatin dari pada keburu kadaluarsa. Bikin yang gampang2 aja deh....sosis solo. Daging dah ada, santan dah ada, tinggal beli telurnya deh di warung depan.

Tadinya mau bikin kurleb 30 buah aja. Karena kira-kira 1 telur jadi 2 buah sosis, saya kocok 15 buah telur....eh ternyata pas udah di dadar jadinya sekitar 50 buah, pantes aja kok rasanya dah sampai dadar yang ke-20, adonan telurnya masih banyak aja (Kayaknya nih, wajan dadar saya kekecilan diameternya...yo wis lah itung2 bonus mau bikin 30 dapat 50, he..he). Tapi ya itu karena gak sabaran pengin cepet selesai, dadar yang belakangan jadi tebel-tebel (Tapi masih bisa di gulung kok).


Tumis isinya, bikin dadarnya, gulung, kukus...jadi deh


Pencicip pertama, Mas Achmad, katanya, 'Enak tau, tinggalin ya jangan dibawa semua'. Wah senangnya dapat pujian, apalagi pas di arisan sosis solonya laris manis, gak bersisa. Yang bikin lebih seneng lagi Ibu mertua juga muji, enak katanya. Ibu mertuaku gitu lho, yang pinter masak, yang jarang-jarang muji masakan orang lain, ternyata suka sama masakanku. Wuaaah, berasa ilang deh capeknya....tralala...trilili....

Tapi si Fikri cuma makan kulitnya aja, gak mau dagingnya (gak suka katanya). Sebagai gantinya tadi pagi saya buatkan spagetti untuk sarapan, langsung habis satu piring. Padahal nih, daging yang di pake buat spagetti adalah daging yang sama dengan isi sosis solo itu. Ceritanya saya bikin isinya kebanyakan, jadi dimanfaatkan buat spagetti, Fikrinya aja yang gak tahu, he..he, mungkin karena dagingnya sudah bercampur dengan puree tomat dan oregano kali ya?

Ini dia penampakan sosis SOLO ku, ada yang mau??


siap disajikan dengan cabe rawit...nyam...nyam deh


Tuesday, April 01, 2008

ADA APA DENGAN 'IBU'?

Suatu hari Fikri bertanya kepada saya: 'Bu, kenapa Fikri kalo panggil Ibu harus Ibu? Kenapa bukan Bunda atau Ummi atau Mama? Kayak temen-temen Fikri tuh'. Jawaban saya waktu itu pendek saja: 'Karena Ibu suka dengan panggilan Ibu, Fik'.

Dulu sebelum Fikri ada, saya dan Mas Achmad memang pernah 'berdiskusi' panggilan apa yang cocok untuk kami setelah Fikri lahir. Kalau Mas Achmad sih ikut saja, artinya jika saya pilih Ibu berarti ada Bapak, Ummi dengan Abi, Bunda dengan Ayah, Mama dengan Papa atau Mami dengan Papi. Dan ternyata pilihan saya jatuh pada Ibu.

Nyaman, ya...itu kata kuncinya. Bisa saja sih saya pakai panggilan Bunda, Ummi, Mama ataupun Mami, tapi kalau gak nyaman dan saya merasa tidak cocok, mau gimana lagi? Malah aneh rasanya.

Tanya kenapa? Mari simak uraian saya satu persatu menurut penglihatan, pendengaran dan perasaan saya....(halah sok serius nih):

1. Bunda:

Bagi saya Bunda berhubungan erat dengan lemah lembut dan bijaksana. Wanita yang dipanggil Bunda menurut saya haruslah wanita dengan karakter lembut, bijaksana, sabar, tidak suka marah-marah, berwajah ramah, bermata teduh dan selalu tersenyum alias tidak jutek, judes, pemarah dan keras kepala. Dengan berbagai sifat yang harus dipunyai oleh wanita yang 'layak' dipanggil Bunda itulah maka saya memutuskan bahwa saya belum layak untuk dipanggil Bunda. Maka kata Bunda saya coret dari daftar.

2. Ummi:

Wanita yang dipanggil Ummi menurut saya harus seorang dengan pemahaman agama yang kuat, kualitas ibadahnya bagus, berhijab dan mempunyai kepekaan yang tinggi dengan dunia dakwah. Dan sekali lagi saya harus mencoret ini dari daftar karena saya belum cukup kualifikasi untuk dipanggil Ummi, belum semuanya tepatnya.

3. Mama:

Saya ini lahir dan besar di desa yang jarang bersentuhan dengan panggilan Mama di sekitar saya. Bagi saya panggilan Mama hanya cocok untuk orang kota dan orang kaya. Andai saya memilih untuk dipanggil Mama? Wah bisa-bisa saudara-saudara saya yang di desa sana meledek saya sambil tertawa dengan kata-kata: 'Nunik? Yang biasa makan singkong itu dipanggil Mama?'. Maksud singkong di sini tentu saja perumpamaan dari orang desa (alias katrok). Apalagi dengan panggilan Mami...wah makin tidak cocok dengan saya. Sekali lagi saya coret daftar yang saya buat.

Akhirnya, 'hanya' panggilan Ibu rasanya yang cocok dengan saya. Dari kecil saya sudah terbiasa dengan panggilan Ibu di sekitar saya. Dan rasa-rasanya panggilan Ibu lebih sesuai dengan sifat saya, sesuai dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, sesuai dengan keunikan saya. Ibu terasa lebih menyatu dengan saya. Itulah mengapa saya lebih suka dipanggil Ibu oleh Fikri.

Updated:
Ibu-Bapak, Bunda-Ayah, Ummi-Abi, Mama-Papa, Mami-Papi atau nama panggilan untuk orang tua yang lain semuanya adalah sama saja, itu hanyalah masalah 'kecocokan' dan 'kesukaan' saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kita.