Benernya agak sedikit males mau bikin liputan ini, soalnya kan banyak banget yg harus diceritakan. Tapi daripada nanti lebaran terlewat gak ada ceritanya, so buat kenang-kenangan, akhirnya saya niatkan membuat postingan ini. Ternyata panjang juga posting ceritanya, padahal udah disingkatpadatkan lho...Apalagi waktu memilih foto yang mau di upload, ternyata susah juga memilih beberapa foto dari sekitar 300-an foto , yang cukup bisa mewakili isi cerita! So...here're the stories:
27 September 2008
Acara mudik di mulai Sabtu, 27 September 2008. Berbekal tiket Argo Muria tujuan Semarang yg sudah diperoleh Bapak dengan perjuangan berat melalui antrian sejak subuh. Benernya tujuannya ke Boyolali via Stasiun Balapan Solo, tapi karena gak kebagian tiket langsung Solo, yo wis ke Semarang dulu juga gak papa.


Ki: menunggu kereta -------- Ka: Fikri di antara koper dan kardus
Alhamdulillah perjalanan lancar. Fikri juga tetap puasa selama perjalanan. Jam 2 siang dah sampai di Semarang. Langsung dijemput sama Pakdhe Joko (Kakak tertua saya), dan meluncur ke rumah Pakdhe di Salatiga. Di sini malah lumayan macet. Fikri juga mulai rewel cape’, tapi gak sampai batal puasanya. Di Salatiga istirahat bentar, mandi dan sholat, trus langsung menuju ke Boyolali. Tepat adzan maghrib sampai rumah, kampung halaman tercintah, bertemu dengan saudara-saudara yang selama 2 tahun gak ketemu. Bahagianyaaa rasa hatiku.
28 September 2008
Kita sekeluarga belanja-belanja dikit buat keperluan lebaran, 6 orang dewasa dan 7 anak-anak. Pas menjelang jam 12 belas siang, anak2 udah pada kecape'an dan kehausan. Saya yang gak belanja kebagian ngawasin anak-anak di mobil, sementara orang tuanya pada belanja. Fikri bahkan udah ngancam besok-besok gak mau lagi pergi naik mobil Pakdhe Joko. Tapi pas saya jelasin nanti perginya kalo udah gak puasa jadi klo haus bisa langsung minum sepuasnya, Fikri manggut-manggut setuju, plus setelah dibeliin sebuah robot dan dompet buat menyimpan angpau, anteng deh Fikri.
29 September 2008
Kapok karena kemarin teler kepanasan dan kehausan, hari ini kita gak ke mana-mana. Menikmati puasa di rumah saja. Cuaca di Boyolali memang sedang panas-panasnya. Si Fikri? Tetap main lari-larian, jejeritan sama sepupunya. Berulangkali disuruh istirahat, khawatir dia kehausan, gak ngaruh juga. Malah panas2an di halaman, untung ada pohon mangga.


fikri dan sepupunya panas2 bulan puasa di bawah pohon mangga di halaman


Atas: jalan2 abis sholat shubuh di bulan puasa --- Bawah: menjelang berbuka puasa
30 September 2008
Masak-masak untuk lebaran: ada sayur sambel goreng, gudeg, opor, apem, tape ketan, dll. Si Bapak dapat tugas membuat obor untuk acara takbiran nanti malam. Bambu? Tinggal minta tetangga di belakang rumah.

Bapak bikin obor untuk ponakan2 untuk takbiran
Dan ketika adzan maghrib berkumandang, alhamdulillah, selesailah bulan ramadhan tahun ini. Allohu Akbar, teriring do’a dari dalam hati, mudah-mudahan kami masih diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan bulan yang penuh rahmah ini di tahun-tahun mendatang. Alhamdulillah puasa Fikri poll sebulan penuh.


takbiran di dekat masjid dengan saudara dan anak2 tetangga
Malamnya, acara takbiran di mushola masa kecil saya….rasanya gimanaaa gitu, klo dulu saya yang memegang obor2 itu, lalu keliling kampung, sekarang giliran Fikri yang mengambil peran bergabung dengan sepupu dan anak-anak tetangga sambil bertakbir, mengagungkan asma Alloh. Bahagia rasanya melihat Fikri bersemangat.


Takbir keliling dari masjid sampai ke kelurahan dengan teman-teman
1 Oktober 2008
Sampailah kami pada hari yang fitri ini. Sholat Idul Fitri bersama keluarga, tetangga dan handai taulan. Berduyun-duyun menuju lapangan. Semuanya larut dalam kebahagiaan. Senyum dan tawa tak berhenti tersungging dari wajah-wajah kami. Hari itu kami habiskan dengan silahturahmi, saling berkunjung, dan saling memaafkan.


Sebelum sholat Idul Fitri


Atas: menuju lapangan untuk sholat --- Bawah: dalam perjalanan pulang setelah sholat
2 Oktober 2008
Acara silahturami masih berlanjut. Biar cape’ tapi fun. Fikri juga enjoy aja mondar-mandir ke sana kemari, bertamu ke rumah-rumah. Apalagi klo dapet angpau, wah, bolak-balik diitung2 mulu. Tapi lucunya ya, biar dia dapat angpau banyak, nanti klo dia jajan dengan uang angpau itu, pasti minta digantiin, jadi uang angpaunya gak boleh berkurang! Trus main banyak-banyakan deh sama sepupunya.


Atas: istirahat di pinggir sawah, kecape'an keliling --- Bawah: Fikri manjat pohon mangga
3 Oktober 2008
Agenda? Tetap silaturahmi. Tapi kali ini sambil menyelam minum air. Searah ke rumah saudara, kita mampir dulu di kolam renang dengan sumber air alami di daerah Ponggok, Klaten, buat nyenengin anak-anak.


Fikri dan sepupu2nya berenang di Ponggok, Klaten
Lagi asyik berenang, tiba2 mendung tebal plus angin kencang datang. Wah langsung pada bubar deh pengunjungnya. Untung kita udah lumayan lama di situ. Langsung deh kita ngacir ke mobil. Pas sampai pas ujan. Katanya nih, ujan pertama sejak berbulan-bulan gak hujan. Jadi harus disyukuri.
4 Oktober 2008
Silaturahmi dan jalan-jalan lagi. Klo kemarin ke arah Klaten, sekarang ke arah Salatiga. Berenang lagi dan ke tempat rekreasi sebentar mendayagunakan uang angpau anak-anaknya (ortunya gak mau rugi). Kali ini nyobain tempat rekreasi baru di Salatiga, Dreamland.


Di Playground Dreamland


Pemandangan di Dreamland Salatiga dengan latar belakang Gunung Merapi-Merbabu
5 Oktober 2008
Tinggal saya, Mas Achmad, Fikri dan Ninda (sepupu Fikri) yang tertinggal di rumah Pakdhe Joko karena saya masih pengin jalan-jalan lagi. Sedangkan yang lain udah balik ke Boyolali kemarin sore.


Di Kopeng dengan latar Gunung Merapi-Merbabu
Tujuan kita kali ini ke Kopeng trus lanjut ke Ketep Pass (gardu pandang gunung merapi) lewat salatiga. Di Kopeng cuma keliling-keliling sebentar. Fikri sempat naik kuda. Trus sempet juga petik2 strawberi.


Ki: petik strawberi --- Ka: gaya dulu aaah


Atas: di antara tanaman hias --- Bawah: naik kuda di Kopeng
Yang agak lama ya di Ketep Pass itu, melihat pemandangan dari ketinggian gunung merapi. Di sini ada museum tentang gunung merapi, juga ada teater yang memutar film tentang aktifnya gunung merapi.


Atas: Fikri meneropong --- Bawah: di depan Museum Volcano


Latar Belakang: Kota Boyolali di kejauhan (keliatan gak??)
6 Oktober 2008
Last day di Boyolali. Kali ini kami menyempatkan berenang di Kendhat. Setiap mudik pasti si Bapak ngajak renang di tempat ini. Maklum, tempat beginian gak ada di Jakarta. Di sekitar rumah ortu sini memang banyak sumber air alami yang dijadikan tempat untuk pemandian. Yang paling besar adalah umbul Pengging. Dulu umbul ini adalah tempat pemandian para puteri dari Keraton Solo. Sedangkan Kendhat ini adalah tempat pemandian Rd. Roro Kendhat, Putri Rd. Brawijaya V (seperti tertulis di depan makam, yang terletak di atas pemandian Kendhat).
Tempat ini cuma berjarak kurang dari 1 km dari rumah. Sumber air alami, dengan air jernih yang berlimpah-limpah. Saya cuma bisa jadi penonton melihat Bapak, Fikri dan Ninda menikmati kesegaran air Kendhat dan harus puas dengan mencelupkan kaki di dinginnya air Kendhat. Siangnya, kami plus Ibu dan kakak berburu sedikit oleh-oleh di pasar tradisional dekat rumah.


Bapak, Fikri dan sepupu Fikri berenang di Kendhat, dengan latar belakang kangkung!

Fikri di sumber air Kendhat
7 Oktober 2008
It’s time to back to Jakarta. Dengan diantar keluarga sampai ke stasiun SoloBalapan, kami harus mengakhiri pertemuan membahagiakan ini. Ada rasa sangat berat menggantung di dada ketika harus meninggalkan kampung halaman tercinta. Air mata tak kuasa tertahan di sudut mata. Mudah-mudahan ini bukan pertemuan yang terakhir. Mudah-mudahan akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membawa bahagia. Dan tepat jam 8 pagi kereta Argo Lawu membawa kami kembali ke Jakarta.


Di Stasiun Solo Balapan
We miss you all, my beloved family. See you all, soon!