Friday, October 31, 2008

Fikri's Progress Report


Hari ini tadi saya dan si Bapak ke sekolah Fikri untuk mengambil Progress Report alias rapor bayangan untuk mid semester 1 ini.

Untuk urusan sekolah Fikri kami memang selalu menyempatkan diri datang berdua ke sekolah. Karena pendidikan anak kan tanggung jawab kedua orang tua, bukan kewajiban Ibu saja atau Bapak saja.

Bahkan karena selalu datang berdua, waktu Fikri TK dulu kami sempat dapat penghargaan orang tua peduli pendidikan (ehem..ehem).


Lah kok malah ngelantur, back to Fikri's Progress Report.
Hasil Progress Report Fikri adalah:

  • Alhamdulillah, nilai ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) Fikri hasilnya bagus. Beberapa mata pelajaran malah dapat nilai 100. Kata wali kelas, untuk nilai akademik Fikri termasuk murid yang menonjol.
  • Secara khusus saya menanyakan tentang pelajaran Math. Bu guru bilang, kemajuan Fikri di Math cukup pesat. Sering diberi latihan soal ya, Ma? Tanya Bu Guru. Yup, betul, hampir tiap hari ketika menghadapi Tes Formatif dan UTS, Fikri diberi latihan soal Math yang beragam. Tapi bukan oleh saya, tapi oleh Bapaknya! Thank to you, Bapak...Muaaach!
  • Yang jadi catatan sedikit serius dan menjadi pe-er buat kami dari Bu Guru adalah masalah habit atau perilaku Fikri. Bukan perilaku yang negatif misalnya berkelahi, bukan! Tapi ini berhubungan dengan mood Fikri. Kadang-kadang klo mood Fikri udah jelek, dia akan susah diajak bekerja sama oleh bu guru. Misalnya nih, dia gak mau ikut baris sebelum masuk kelas, ya udah Fikri akan duduk aja di pinggir lapangan. Klo ditanya bu guru apa sebabnya, dia dengan cuek menjawab, lagi males aja! Atau lagi gak mau aja! Nah lho.
  • Masalah habit Fikri yang lain adalah masalah sensitifnya itu lho (masih ingat cerita yang ini kan?). Kadang-kadang nih klo lagi belajar di kelas, dia mendadak jadi pendiam. Klo ditanya bu guru, dia jawab, Fikri kangen Ibu, Fikri mau telpon Ibu. Klo belum kesampaian ditelp atau di sms, Fikri akan tetap diam. Tapi gak lama juga, nanti setelah bosen didiamkan sama bu guru Fikri akan bergabung dengan teman-temannya lagi.
  • Masalah habit Fikri yang lain? Masalah empati dan berbagi ke teman. Kata bu guru, Fikri itu punya prinsip: saya gak akan minta kepunyaan teman, sebaliknya teman juga jangan minta kepunyaan saya! Jadinya ya Fikri jarang berbagi ke teman. Sering nih saya bawakan bekal makanan berlebih ke sekolah, maksud saya biar dia bagi-bagi dengan temannya. Tapi setelah saya cek, bekal makanan itu masih bersisa juga. Klo saya tanya kenapa gak dibagi ke teman? Dia jawab, gak ada yang minta, Bu. Waduh Fik, klo mau berbagi ke teman gak usah nunggu temannya minta kaliii, kasih aja langsung!
  • Fikri mengalami sedikit kesulitan untuk minta maaf dan memaafkan secara verbal atau dengan kata-kata. Padahal sudah kami praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara memberi contoh kami meminta maaf duluan, tapi kok ya Fikri masih kesulitan ya??!
Secara garis besar, itulah catatan dan pe-er dari Bu guru buat kami untuk 'memperbaiki' Fikri. Bukan pekerjaan yang mudah rasanya. Tapi memang harus sedikit demi sedikit dilakukan. Learning by doing dan practices make perfect! Supaya masalah 'habit' atau perilaku Fikri ini tidak menjadi masalah di kemudian hari ketika dia tumbuh dan berkembang dalam perjalanan hidupnya.

Fikri, let's do it together! Ayo deh, siapa takuuut!

Monday, October 20, 2008

Muter-Muter di Ciater


Masih tentang jalan-jalan, masih tentang liburan dalam rangka lebaran…
Mudah-mudahan gak bosen ya bacanya…


Kali ini giliran keluarga besar bapak mertua yang ngadain acara. Katanya siy dalam rangka mempererat tali silaturahmi di antara kita, terutama di bulan syawal ini. Padahal kan lebaran dah lewat lama ya. Tapi kan masih syawal….Selain itu juga buat mendayagunakan uang angpau bocah-bocah..he..he.


Tujuan kali ini ke Ciater. Yang milih tempat para ortunya, karena pada pengin berendam air panas. Bisa nyembuhin bermacam-macam penyakit katanya. Hampir saja, saya, Bapak dan Fikri gak ikutan, karena hari Seninnya kan Fikri ada UTS. Tapi setelah ditimbang2, bahwa Fikri sudah bisa belajar jauh-jauh hari, akhirnya kita memutuskan ikut. Lagian kita juga blom pernah ke Ciater (ndeso ya?!)..hik..hik


Minggu, 19 Oktober 2008, jam 7 pagi, rombongan 1 bis yang berisi 50-an orang berangkat dari Kelapa Dua, Kebon Jeruk. Alhamdulillah perjalanan lancar, jam 11 siang sampai di Ciater. Liat pintu gerbang utama: waaaah, penuh banget dan panjang antriannya. Beruntung sang ketua panitia sudah sering kemari, jadi kita langsung lewat pintu masuk timur, yang ternyata longgaaaar banget. Sip deh.


Sampai di dalam langsung gelar tikar, makan siang dulu. Benernya sih belom laper banget, tapi demi untuk meringankan barang bawaan, kita kudu makan. Jadi makanan yang dibawa gak perlu ditenteng2 lagi tapi dipindahin ke perut masing-masing..he..he.

Makan rame-rame

Kakek-Nenek Fikri, makan berdua aja, mesranya...

Selesai makan, saya, Bapak dan Fikri ngider deh muter-muter di Ciater. Ternyata, Ciater gak seindah yang saya bayangkan. Areanya gak terlalu luas, panas, bahkan terkesan sedikit gersang. Apalagi kemarin pengunjungnya penuuuh banget.

Fikri naik sepeda air sama Kakek

Di Playground: Ayo Fik, naik terus, lho kok malah nyangkut?

Fikri dan sepupu2nya

Saya, Bapak, dan Fikri sempat berendam di air panas, tapi cuma sebentar, karena lama-lama kok berasa gak nyaman ya, sedikit sesak nafas gitu.

Di kolam renang: gak tahan panasnya.

Selebihnya, kita jalan-jalan aja, melihat-lihat siapa tahu ada yang menarik, dan tentu saja foto-foto, boleh ya???

Ibu dan Bapakku mana ya?

Ki: Foto ala cuek ---------- Ka: Nice shot, Fikri!

Ki: ada yg mejeng tuh. ------ Ka: Bapak in action, Fikri cuek makan.

A happy family (kamera di ganjal tas..he..he)

Setelah beli-beli nenas madu yang konon katanya manis banget, jam 4, waktunya pulang. Eh, tenyata masih mau mampir dulu di Cibaduyut. Jadi pulangnya lewat Bandung teaaaa. Nah, dibanding di Ciater, saya justru terhibur banget dengan pemandangan dari Ciater-Bandung. Liat yang ijo2! Jadi inget waktu ke Merapi mudik kemarin.

Sebagian dari kami: foto bareng sebelum pulang

indahnya......


Sampai Cibaduyut, sholat maghrib dan makan malam. Eh, tiba-tiba hujan deras banget. Yaaa, gak jadi window shopping deh. Kita cuma sempat mampir di 2 toko, dapat satu sepatu sekolah Fikri, lumayaaaaan.


Dari Cibaduyut, langsung pulang. Sampai rumah sekitar jam 10.30 malam. Seperti biasa cuaape’ tapi sueeeneng. Saya dan Fikri masih sempat mereview bahan UTS sebentar, sebelum akhirnya kami tertidur dengan pulasnya.


Thursday, October 09, 2008

Liputan (Mudik) Lebaran


Benernya agak sedikit males mau bikin liputan ini, soalnya kan banyak banget yg harus diceritakan. Tapi daripada nanti lebaran terlewat gak ada ceritanya, so buat kenang-kenangan, akhirnya saya niatkan membuat postingan ini. Ternyata panjang juga posting ceritanya, padahal udah disingkatpadatkan lho...Apalagi waktu memilih foto yang mau di upload, ternyata susah juga memilih beberapa foto dari sekitar 300-an foto , yang cukup bisa mewakili isi cerita! So...here're the stories:

27 September 2008

Acara mudik di mulai Sabtu, 27 September 2008. Berbekal tiket Argo Muria tujuan Semarang yg sudah diperoleh Bapak dengan perjuangan berat melalui antrian sejak subuh. Benernya tujuannya ke Boyolali via Stasiun Balapan Solo, tapi karena gak kebagian tiket langsung Solo, yo wis ke Semarang dulu juga gak papa.


Ki: menunggu kereta -------- Ka: Fikri di antara koper dan kardus

Alhamdulillah perjalanan lancar. Fikri juga tetap puasa selama perjalanan. Jam 2 siang dah sampai di Semarang. Langsung dijemput sama Pakdhe Joko (Kakak tertua saya), dan meluncur ke rumah Pakdhe di Salatiga. Di sini malah lumayan macet. Fikri juga mulai rewel cape’, tapi gak sampai batal puasanya. Di Salatiga istirahat bentar, mandi dan sholat, trus langsung menuju ke Boyolali. Tepat adzan maghrib sampai rumah, kampung halaman tercintah, bertemu dengan saudara-saudara yang selama 2 tahun gak ketemu. Bahagianyaaa rasa hatiku.


28 September 2008

Kita sekeluarga belanja-belanja dikit buat keperluan lebaran, 6 orang dewasa dan 7 anak-anak. Pas menjelang jam 12 belas siang, anak2 udah pada kecape'an dan kehausan. Saya yang gak belanja kebagian ngawasin anak-anak di mobil, sementara orang tuanya pada belanja. Fikri bahkan udah ngancam besok-besok gak mau lagi pergi naik mobil Pakdhe Joko. Tapi pas saya jelasin nanti perginya kalo udah gak puasa jadi klo haus bisa langsung minum sepuasnya, Fikri manggut-manggut setuju, plus setelah dibeliin sebuah robot dan dompet buat menyimpan angpau, anteng deh Fikri.


29 September 2008

Kapok karena kemarin teler kepanasan dan kehausan, hari ini kita gak ke mana-mana. Menikmati puasa di rumah saja. Cuaca di Boyolali memang sedang panas-panasnya. Si Fikri? Tetap main lari-larian, jejeritan sama sepupunya. Berulangkali disuruh istirahat, khawatir dia kehausan, gak ngaruh juga. Malah panas2an di halaman, untung ada pohon mangga.

fikri dan sepupunya panas2 bulan puasa di bawah pohon mangga di halaman

Atas: jalan2 abis sholat shubuh di bulan puasa --- Bawah: menjelang berbuka puasa


30 September 2008

Masak-masak untuk lebaran: ada sayur sambel goreng, gudeg, opor, apem, tape ketan, dll. Si Bapak dapat tugas membuat obor untuk acara takbiran nanti malam. Bambu? Tinggal minta tetangga di belakang rumah.

Bapak bikin obor untuk ponakan2 untuk takbiran

Dan ketika adzan maghrib berkumandang, alhamdulillah, selesailah bulan ramadhan tahun ini. Allohu Akbar, teriring do’a dari dalam hati, mudah-mudahan kami masih diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan bulan yang penuh rahmah ini di tahun-tahun mendatang. Alhamdulillah puasa Fikri poll sebulan penuh.

takbiran di dekat masjid dengan saudara dan anak2 tetangga

Malamnya, acara takbiran di mushola masa kecil saya….rasanya gimanaaa gitu, klo dulu saya yang memegang obor2 itu, lalu keliling kampung, sekarang giliran Fikri yang mengambil peran bergabung dengan sepupu dan anak-anak tetangga sambil bertakbir, mengagungkan asma Alloh. Bahagia rasanya melihat Fikri bersemangat.


Takbir keliling dari masjid sampai ke kelurahan dengan teman-teman


1 Oktober 2008

Sampailah kami pada hari yang fitri ini. Sholat Idul Fitri bersama keluarga, tetangga dan handai taulan. Berduyun-duyun menuju lapangan. Semuanya larut dalam kebahagiaan. Senyum dan tawa tak berhenti tersungging dari wajah-wajah kami. Hari itu kami habiskan dengan silahturahmi, saling berkunjung, dan saling memaafkan.

Sebelum sholat Idul Fitri

Atas: menuju lapangan untuk sholat --- Bawah: dalam perjalanan pulang setelah sholat


2 Oktober 2008

Acara silahturami masih berlanjut. Biar cape’ tapi fun. Fikri juga enjoy aja mondar-mandir ke sana kemari, bertamu ke rumah-rumah. Apalagi klo dapet angpau, wah, bolak-balik diitung2 mulu. Tapi lucunya ya, biar dia dapat angpau banyak, nanti klo dia jajan dengan uang angpau itu, pasti minta digantiin, jadi uang angpaunya gak boleh berkurang! Trus main banyak-banyakan deh sama sepupunya.

Atas: istirahat di pinggir sawah, kecape'an keliling --- Bawah: Fikri manjat pohon mangga


3 Oktober 2008

Agenda? Tetap silaturahmi. Tapi kali ini sambil menyelam minum air. Searah ke rumah saudara, kita mampir dulu di kolam renang dengan sumber air alami di daerah Ponggok, Klaten, buat nyenengin anak-anak.

Fikri dan sepupu2nya berenang di Ponggok, Klaten

Lagi asyik berenang, tiba2 mendung tebal plus angin kencang datang. Wah langsung pada bubar deh pengunjungnya. Untung kita udah lumayan lama di situ. Langsung deh kita ngacir ke mobil. Pas sampai pas ujan. Katanya nih, ujan pertama sejak berbulan-bulan gak hujan. Jadi harus disyukuri.


4 Oktober 2008

Silaturahmi dan jalan-jalan lagi. Klo kemarin ke arah Klaten, sekarang ke arah Salatiga. Berenang lagi dan ke tempat rekreasi sebentar mendayagunakan uang angpau anak-anaknya (ortunya gak mau rugi). Kali ini nyobain tempat rekreasi baru di Salatiga, Dreamland.

Di Playground Dreamland

Pemandangan di Dreamland Salatiga dengan latar belakang Gunung Merapi-Merbabu


5 Oktober 2008

Tinggal saya, Mas Achmad, Fikri dan Ninda (sepupu Fikri) yang tertinggal di rumah Pakdhe Joko karena saya masih pengin jalan-jalan lagi. Sedangkan yang lain udah balik ke Boyolali kemarin sore.

Di Kopeng dengan latar Gunung Merapi-Merbabu

Tujuan kita kali ini ke Kopeng trus lanjut ke Ketep Pass (gardu pandang gunung merapi) lewat salatiga. Di Kopeng cuma keliling-keliling sebentar. Fikri sempat naik kuda. Trus sempet juga petik2 strawberi.

Ki: petik strawberi --- Ka: gaya dulu aaah

Atas: di antara tanaman hias --- Bawah: naik kuda di Kopeng


Yang agak lama ya di Ketep Pass itu, melihat pemandangan dari ketinggian gunung merapi. Di sini ada museum tentang gunung merapi, juga ada teater yang memutar film tentang aktifnya gunung merapi.

Atas: Fikri meneropong --- Bawah: di depan Museum Volcano

Latar Belakang: Kota Boyolali di kejauhan (keliatan gak??)


6 Oktober 2008

Last day di Boyolali. Kali ini kami menyempatkan berenang di Kendhat. Setiap mudik pasti si Bapak ngajak renang di tempat ini. Maklum, tempat beginian gak ada di Jakarta. Di sekitar rumah ortu sini memang banyak sumber air alami yang dijadikan tempat untuk pemandian. Yang paling besar adalah umbul Pengging. Dulu umbul ini adalah tempat pemandian para puteri dari Keraton Solo. Sedangkan Kendhat ini adalah tempat pemandian Rd. Roro Kendhat, Putri Rd. Brawijaya V (seperti tertulis di depan makam, yang terletak di atas pemandian Kendhat).

Tempat ini cuma berjarak kurang dari 1 km dari rumah. Sumber air alami, dengan air jernih yang berlimpah-limpah. Saya cuma bisa jadi penonton melihat Bapak, Fikri dan Ninda menikmati kesegaran air Kendhat dan harus puas dengan mencelupkan kaki di dinginnya air Kendhat. Siangnya, kami plus Ibu dan kakak berburu sedikit oleh-oleh di pasar tradisional dekat rumah.

Bapak, Fikri dan sepupu Fikri berenang di Kendhat, dengan latar belakang kangkung!

Fikri di sumber air Kendhat

7 Oktober 2008

It’s time to back to Jakarta. Dengan diantar keluarga sampai ke stasiun SoloBalapan, kami harus mengakhiri pertemuan membahagiakan ini. Ada rasa sangat berat menggantung di dada ketika harus meninggalkan kampung halaman tercinta. Air mata tak kuasa tertahan di sudut mata. Mudah-mudahan ini bukan pertemuan yang terakhir. Mudah-mudahan akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membawa bahagia. Dan tepat jam 8 pagi kereta Argo Lawu membawa kami kembali ke Jakarta.

Di Stasiun Solo Balapan

We miss you all, my beloved family. See you all, soon!