Selamat hari jadi yang ke 8 anakku. Bagi kami, kaulah yang terbaik, selalu yang terbaik. Menjadi anak yang sehat dan sholeh itulah yang utama, sedangkan yang lain adalah sebagai "bonusnya".
We love you, always.
(Bapak dan Ibu)
Yupp...5 Mei 2001 lalu, Fikri lahir di Boyolali sana. Waktu itu saya dan Bapak masih bekerja di Kalsel. Menjelang hari kelahiran, saya dan Bapak memutuskan pulang ke pulau jawa ini, mengingat ini adalah pengalaman kelahiran kami yang pertama, belum berani rasanya menjalani berdua saja, jauh dari sanak saudara. Akhirnya ketika menginjak bulan ke-9, dengan menumpang kapal Egon kami bertolak dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 jam (sepertinya kok dramatis sekali ya...memang betul!).
Beberapa hari di Jawa, rupanya Fikripun segera lahir. Sebuah kelahiran yang alhamdulillah lancar. Jam 10 malam ketuban saya pecah, jam 8 pagi kami sudah mendengar tangis Fikri yang sangat keras!
Hanya seminggu Bapak menunggui saya dan Fikri, kemudian beliau harus kembali ke Kalsel karena masa cutinya sudah habis. Saya masih tinggal di Boyolali, karena usia Fikri yang belum memungkinkan perjalanan jauh. Dan apa akibatnya? Saya mengalami baby blues. Mengalami kesedihan yang berlarut-larut, maafkan Ibu ya Fik.
Menjelang usia 3 bulan, setelah cuti bersalin saya habis, Bapak menjemput saya dan Fikri kembali ke Kalsel. Jangan bayangkan naik pesawat ya, karena saat itu, harga tiket pesawat jauh dari jangkauan kami. Kami naik kapal cepat. Kali ini kami lewat Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Setelah hampir 5 jam menumpang travel dari Solo ke Surabaya.
Masih terbayang dengan jelas, bagaimana kami bertiga sampai di pelabuhan Surabaya hampir pagi menjelang, kemudian mengganti pampers Fikri di sebelah musholla hanya beralaskan tas travel kami. Di sepanjang perjalanan di dalam kapal cepat (dengan kapal cepat ini, waktu tempuh dari Surabaya-Banjarmasin kurang lebih 8 jam), saya mengalami mabuk laut yang sangat parah, sementara karena khawatir Fikri rewel, saya hanya bisa memberi susu dan susu. Karena kurang pengalaman, sampai Fikripun kekenyangan dan muntah-muntah. Panik menyergap, alhamdulillah saat itu Bapak yang biasanya selalu mabuk laut, hari itu diberi kekuatan. Fikri diambil alih oleh Bapak, sementara saya mencoba bertahan dengan mabuk yang makin parah.
Alhamdulillah Fikri tumbuh menjadi anak yang sehat, meskipun tanpa ASI (saya bukannya menganjurkan tanpa ASI), tapi mengingat Fikri hampir tidak pernah minum ASI, sungguh melegakan melihat dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan jarang sekali sakit. Alhamdulillah.
Kalau kami melihat lagi ke belakang, kami masih merasa takjub dengan pengalaman waktu Fikri masih kecil dulu: Fikri yang doyan sekali minum susu ( 400 gr habis dalam 2 hari), Fikri yang doyan dengan telor dan wortel, Fikri yang sangat suka dengan mobil truk, Fikri yang sempat dikira bukan anak saya karena saking berbedanya penampilan kami, Fikri yang tetap tumbuh sehat sementara saya sebagai Ibunya bahkan sempat tidak sanggup menggendongnya
(baca ceritanya). Fikri yang tumbuh sehat walaupun ikut merasakan 'pahit getir' pengalaman di awal-awal masa kecilnya.
Sekarang Fikri sudah berumur 8 tahun, sudah kelas 2 SD. Alhamdulilah masih diberi kesehatan. Suka sekali dengan segala hal yang menyangkut mobil dan bola. Mulai menolak ketika kami ajak jalan (dia lebih senang bermain dengan temannya). Menjadi ketua kelas, ketua kelompok pramuka, dan prestasi yang alhamdulillah bagus di mata pelajaran. Sangat mandiri (mandi, makan, menyiapkan buku sekolah, menyiapkan baju dari kelas 1 dulu). Sholat lengkap 5 waktu dari mulai kelas 1 juga. Puasa sehari sebulan penuh. Dan sebentar lagi sudah akan khatam dengan Juz 'Amma nya, bukan cuma membaca tapi menghapalnya. Fikri juga sangat jujur, dia akan mengatakan apapun kepada kami, bahkan ketika dia berbuat salah tanpa sepengetahuan, dia tetap akan berkata jujur.
Sedangkan kekurangannya, kami anggap adalah sebuah kewajaran dari anak 8 tahun. Kadang susah bangun pagi, kadang tidak tidur siang tapi malah asyik bermain, kadang malas belajar, kadang tidur malam-malam, kadang membantah kalau dinasehati, kadang marah-marah, kadang kurang berani mencoba hal-hal baru. Kadang sensitif, kadang cuek. Tapi sekali lagi itu adalah sebuah kewajaran, kekurangannya yang tertutup dengan segala kebaikannya.
Once again, Happy Birthday, Dear. May Alloh Swt bless you. Amin